Jember, Mahasiswa UIN KHAS Jember menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema pelestarian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) dan cagar budaya di kawasan lereng selatan Gunung Hyang, Kabupaten Jember, pada Senin (27/04/2026).

Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji potensi warisan budaya lokal sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga peninggalan peradaban kuno yang tersimpan di kawasan tersebut.
FGD ini membahas 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) dan menjadi forum strategis dalam merumuskan langkah konkret untuk menjaga, mendokumentasikan, serta mempromosikan kekayaan budaya lereng selatan Gunung Hyang kepada masyarakat luas.
Ketua panitia, Achmad Syahrijal, menyampaikan bahwa kawasan tersebut menyimpan banyak peninggalan bernilai sejarah tinggi, namun belum sepenuhnya dikenal publik. Ia menegaskan pentingnya membangun kesadaran kolektif dalam menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas bersama.
“Kegiatan ini merupakan langkah nyata untuk membangkitkan kesadaran bahwa warisan leluhur bukan sekadar benda bersejarah, tetapi juga identitas budaya yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
FGD ini tidak hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga dihadiri perangkat desa serta para pemerhati budaya. Keterlibatan berbagai pihak ini menjadi upaya membangun sinergi lintas sektor dalam merumuskan strategi pelestarian kebudayaan yang berkelanjutan.
Forum diskusi berlangsung dinamis dan produktif, menjadi ruang dialog antara pemerintah desa, akademisi, dan mahasiswa dalam menyusun arah kebijakan kebudayaan yang lebih terencana.
Hal ini mencerminkan keseriusan bersama dalam menjawab tantangan pelestarian warisan budaya yang selama ini belum mendapatkan perhatian optimal.
Salah satu isu utama yang dibahas adalah minimnya informasi di masyarakat terkait keberadaan objek-objek budaya bernilai tinggi di lereng selatan Gunung Hyang.
Padahal, keberadaan artefak dan cagar budaya di kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk memperkuat identitas budaya Kabupaten Jember, baik di tingkat regional maupun nasional.
Seluruh peserta sepakat bahwa pelestarian tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat agar upaya pelestarian berjalan secara sistematis, terukur, dan berkelanjutan.
Dengan terbangunnya kesadaran bersama, kawasan lereng selatan Gunung Hyang diharapkan dapat berkembang menjadi ikon budaya sekaligus destinasi wisata sejarah yang mampu memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat lokal.
Dalam diskusi tersebut juga dibahas berbagai isu teknis, mulai dari inventarisasi objek budaya, perlindungan dari ancaman kerusakan, hingga strategi pengembangan wisata berbasis kearifan lokal.
Sepuluh OPK yang menjadi fokus kajian mencakup artefak arkeologis, tradisi lisan, serta praktik budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
Jagat Satrea menambahkan bahwa hasil FGD ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi konkret bagi pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan pelestarian yang lebih terarah.
“Lereng selatan Gunung Hyang adalah warisan peradaban yang tak ternilai. Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk memastikan warisan ini tetap lestari dan dikenal oleh generasi mendatang,” pungkasnya.
Kegiatan berlangsung lancar dan penuh antusiasme, dihadiri oleh mahasiswa, tokoh masyarakat, serta pemerhati budaya dari berbagai wilayah di Kabupaten Jember.



