Instruksi tegas Presiden Prabowo Subianto kepada seluruh kepala daerah di Indonesia telah menggema: persoalan sampah tidak lagi bisa ditangani dengan metode konvensional yang manual dan sekadar memindahkan masalah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Krisis lahan TPA yang terjadi di hampir seluruh kabupaten dan kota menjadi bukti nyata bahwa sistem “kumpul-angkut-buang” telah mencapai titik nadir. Kini, setiap daerah dituntut untuk melahirkan inovasi tekhnologi yang tidak hanya meniadakan tumpukan limbah, tetapi juga mengubahnya menjadi motor penggerak Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kegagalan Sistem Manual dan Paradigma Baru

Selama puluhan tahun, pengelolaan sampah di Indonesia terjebak dalam model linier. Sampah dipandang sebagai residu yang tidak berharga, sehingga pemerintah daerah harus terus merogoh kocek APBD untuk biaya operasional tanpa ada timbal balik finansial. Secara teoretis, kita harus bergeser ke arah Ekonomi Sirkular.

Dalam konsep ini, sampah adalah bahan baku yang “salah tempat”. Dengan sentuhan tekhnologi, alur hidup produk yang biasanya berakhir di tempat sampah diubah menjadi siklus tertutup yang produktif.

Pirolisis: Menambang Minyak dari Gunung Plastik

Salah satu tekhnologi paling mutakhir dan sangat relevan untuk diadopsi daerah saat ini adalah Pirolisis. Teknologi ini merupakan proses dekomposisi termokimia dari material organik dan plastik melalui pemanasan tanpa melibatkan oksigen (atau dengan oksigen yang sangat terbatas).

​ Secara teknis, sampah plastik yang selama ini menjadi momok karena sulit terurai dimasukkan ke dalam reaktor pirolisis. Di dalam reaktor tersebut, rantai polimer plastik diputus menjadi molekul yang lebih pendek melalui suhu tinggi sekitar 300 hingga 500 derajat Celcius.

Baca Juga  Aktivis Kebudayaan Jember Tolak Penggabungan Dinas Kebudayaan dan Dispora

Hasilnya sangat mencengangkan: sampah plastik berubah kembali menjadi minyak (bio-oil atau minyak pirolisis) yang memiliki karakteristik serupa dengan solar atau minyak tanah.

Selain menghasilkan minyak, pirolisis juga menghasilkan gas yang bisa digunakan kembali sebagai sumber energi pemanas reaktor itu sendiri (self-sustaining energy), serta residu berupa bio-char atau arang karbon yang dapat digunakan sebagai pembenah tanah atau bahan baku industri. Inilah teknologi yang benar-benar ramah lingkungan karena dilakukan dalam ruang tertutup sehingga meminimalkan emisi gas buang ke atmosfer.

Diversifikasi Tekhnologi Pendukung

Selain pirolisis untuk menangani plastik, daerah dapat mengintegrasikan dua tekhnologi lain untuk menangani sampah jenis lainnya secara sistematis:

​Refuse Derived Fuel (RDF): Untuk sampah campuran yang sulit dipilah, teknologi RDF mengubahnya menjadi briket atau pelet bahan bakar. Produk ini merupakan pengganti batu bara yang sangat diminati oleh industri semen dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

​Biokonversi Maggot BSF: Untuk sampah organik yang basah dan berbau, penggunaan larva Black Soldier Fly (BSF) adalah solusi tercepat. Maggot mampu melahap sampah organik dalam jumlah besar dan mengubahnya menjadi massa protein tinggi yang bernilai ekonomi sebagai pakan ternak.

Strategi Transformasi Menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD)

​  Keberhasilan implementasi tekhnologi seperti pirolisis akan berdampak langsung pada postur fiskal daerah. Berikut adalah skema bagaimana inovasi ini dapat menyuntikkan dana ke kas daerah:

​Kemandirian Energi Daerah: Minyak hasil pirolisis dapat digunakan untuk menggerakkan kendaraan operasional dinas kebersihan atau mesin-mesin industri kecil menengah (IKM) di daerah tersebut. Ini berarti penghematan besar pada anggaran belanja BBM daerah.

​Penjualan Produk Sampingan: Pemerintah daerah melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dapat menjual minyak pirolisis, pelet RDF, hingga maggot ke sektor swasta. Permintaan pasar terhadap bahan bakar alternatif saat ini sedang meningkat tajam seiring dengan tren industri hijau dunia.

Baca Juga  Progres Monev Tahap I 2025 di Kasiyan Timur: Pemdes Siap Perbaiki Sesuai Koreksi Tim

​Pemanfaatan Kredit Karbon: Dengan mengolah sampah secara tekhnologi (bukan dibakar terbuka atau dibiarkan membusuk menghasilkan metana), daerah berkontribusi signifikan pada pengurangan emisi gas rumah kaca.

Pengurangan emisi ini dapat dikonversi menjadi kredit karbon yang dapat dijual di pasar karbon internasional, memberikan sumber PAD dalam mata uang asing.

​Efisiensi Biaya TPA: Dengan berkurangnya sampah yang masuk ke TPA hingga 90%, umur pakai TPA akan menjadi jauh lebih panjang. Hal ini menghilangkan kebutuhan mendesak untuk pengadaan lahan baru yang biayanya sangat mahal dan sering memicu konflik sosial.

Langkah Strategis Kepala Daerah

Menanggapi instruksi Presiden Prabowo Subianto, para kepala daerah harus segera melakukan audit volume sampah dan mulai menyusun studi kelayakan untuk pembangunan instalasi pirolisis dan RDF.

Skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) bisa menjadi solusi bagi daerah yang memiliki keterbatasan anggaran di awal, sehingga investasi tekhnologi dibiayai bersama pihak swasta dengan sistem bagi hasil yang menguntungkan.

​ Pengelolaan sampah berbasis teknologi bukan lagi sekadar pilihan lingkungan, melainkan keharusan ekonomi. Dengan teknologi pirolisis, daerah tidak lagi mengemis anggaran untuk mengurus sampah, melainkan menjadikan sampah sebagai “tambang minyak baru” yang menyejahterakan rakyat dan menyehatkan lingkungan.

ditulis oleh Ketua Departemen Penerbitan Centre Of Local Economy And Politics Studies (CoLEPS) Jember

Alamat : Perum Griya Mangli Blok BE 16 Kaliwates Jember

Telp : 082229170915