Mediajember — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jember mendadak menjadi perhatian publik. Sejumlah keluhan dari sekolah dan orang tua siswa bermunculan, mulai dari kualitas makanan hingga laporan siswa mengalami gangguan kesehatan setelah menerima menu MBG.

Perbincangan cepat meluas di masyarakat, maupun di media sosial. Banyak pihak mempertanyakan pengawasan dapur penyedia makanan yang setiap hari mendistribusikan ribuan porsi ke sekolah.
Beberapa sekolah bahkan mengaku harus lebih selektif saat menerima makanan karena khawatir terhadap kondisi menu yang diterima siswa.
Bupati Ambil Alih Pengawasan
Di tengah sorotan tersebut, Bupati Jember Muhammad Fawait akhirnya turun langsung. Ia menegaskan pemerintah daerah tidak akan membiarkan persoalan ini berlarut.
“Ini tanggung jawab saya. Anak-anak harus mendapat makanan yang aman dan bergizi,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi respons atas meningkatnya keresahan masyarakat terhadap pelaksanaan program nasional tersebut.
Satgas Dibentuk, Dapur Diawasi Ketat
Langkah tindak lanjut yang dilakukan, Pemkab Jember segera membentuk Satgas pengawasan MBG. Tim ini melakukan inspeksi mendadak ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memastikan proses memasak sesuai standar.
Pengelola dapur kini diwajibkan menjaga kualitas bahan, kebersihan produksi, serta kesesuaian menu gizi.
Pemkab Jember juga meminta pemasangan CCTV agar aktivitas dapur dapat dipantau.
Bupati bahkan memberi peringatan keras. Penyedia yang terbukti lalai bisa langsung dihentikan kerja samanya.
Jadi Alarm Nasional
Polemik MBG di Jember dinilai menjadi peringatan penting bahwa program besar membutuhkan pengawasan ketat di lapangan.
Masyarakat tidak menolak programnya. Mereka hanya ingin satu hal: makanan yang benar-benar aman untuk anak-anak.
Evaluasi yang kini berjalan diharapkan menjadi titik perbaikan agar MBG kembali pada tujuan awalnya, yakni meningkatkan gizi pelajar tanpa menimbulkan kekhawatiran baru.



